Tes Antigen COVID-19: Positif

Jujur gue cukup deg-degan nulis ini dan masih gak nyangka kalau beberapa waktu lalu, ketika gue tes antigen Covid-19 hasilnya adalah positif. Untuk teman-teman semuanya, jaga kesehatan, makan-makanan bergizin, rajin olahraga, dan tetap bahagia.

Sabtu, 19 Desember 2020

Mengawali hari dengan bangun tidur seperti biasanya, cuci muka lalu sarapan, gue langsung berselancar di internet. Bukan media sosial yang gue buka tetapi website. Ya, akhir-akhir ini gue lagi memperdalam ilmu website, terutama adalah WordPress.

Tiba-tiba suara smartphone berdering tanda ada panggilan masuk. Ternyata panggilan itu dari salah seorang atasan gue di kantor yang sekarang gue membantu untuk menggarap pekerjaannya.

Singkat cerita, pembicaraan telepon membahas bahwa minggu depan ada acara kantor dan menunjukkan hasil swab antigen yang negatif. Seluruh pegawai kantor sudah melakukan itu tetapi karena gue bukan pegawai tetap, jika ingin tes harus bayar dengan uang pribadi. Maka dari itu, gue tidak ikut acara tersebut.

Namun, setelah berpikir gue juga penasaran mau tes antigen itu apakah ada virus yang membuat Covid-19 atau tidak di tubuh gue karena beberapa hari ke belakang gue sering keluar rumah. Walaupun tetap menerapkan protokol kesehatan, gue masih penasaran. Iseng lah gue mencari swab antigen terdekat dimana untuk mengecek diri gue apakah positif atau negatif.

Gue ketik di Google, “swab antigen terdekat”. Muncul lah dari salah satu aplikasi kedokteran yang cukup umum di masyarakat, memberikan daftar rumah sakit dan klinik mana yang mengadakan tes tersebut. Akhirnya gue memilih salah satu rumah sakit terdekat dari rumah gue dan kebetulan harganya terjangkau kurang lebih 250 ribu.

Ketika membuka website itu siang hari, ternyata ada jadwal tes sore hari. Langsung gue booking untuk tes antigen ini. Sempat ragu untuk berangkat ataut tidak tetapi gue memutuskan untuk berangkat. Sekitar pukul 3 sore gue sampai di rumah sakit dan langsung antre untuk pengambilan sampel.

Setelah menunggu satu jam, nama gue dipanggil untuk masuk ke tempat pengambilan sampel. Cukup deg-degan karena ini baru pertama kalinya gue tes antigen. Swab yang dilakukan itu pada hidung. Awalnya gue kira cuma satu lubang hidung aja, ternyata dua-duanya.

Sehabis ambil sampel, perawat berkata, “Hasilnya nanti kira-kira 2-3 jam, ya, Pak.”

Kaget, ternyata gue dipanggil “Pak”. Berhubung gak terlalu lama, gue memutuskan untuk menunggu. Setengah jam pertama masih betah untuk menunggu, lama-lama bosan juga. Gue pun pergi ke luar rumah sakit dulu untuk mencari makan.

Tiga jam berlalu, gue menunggu di depan laboratorium untuk mendapatkan hasil. Nama gue pun dipanggil dan diberi amplop tetapi isinya bukan uang melainkan surat bahwa hasil swab antigen gue, POSITIF.

Melihat itu gue sedikit shock karena kondisi tubuh gue saat itu aman-aman aja, tidak ada gejala atau penyakit apa-apa. Terlebih, tes antigen ini memiliki akurasi yang cukup tinggi. Gue pun bertanya ke perawat yang memberikan hasil harus ke mana jika positif seperti ini. Perawat menjawab, “Ke puskesmas aja buat tes PCR.”

Ya, sejauh ini tes yang paling akurat adalah PCR. Dengan hasil yang kurang memuaskan gue pulang ke rumah. Sampai rumah, gue kasih tahu kedua orang tua gue dan langsung memisahkan diri, seperti pisah tempat tidur, pisah tempat makan, pisah gelas minum, dan pisah lainnya tetapi enggak pisah rumah karena gue belum punya rumah. Setiap keluar kamar juga gue pakai masker dan menggunakan sarung tangan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.

Setelah pikir panjang, gue memutuskan untuk tes PCR ke puskesmas hari Senin besok. Hari ini, gue isolasi mandiri dulu karena memang tidak ada gejala apa-apa.

Senin, 21 Desember 2020

Sekitar pukul 9 pagi, gue langsung memutuskan untuk pergi ke puskesmas kecamatan karena puskesmas itu yang mengadakan tes PCR. Sesampainya di puskesmas kecamatan, gue bingung mau kemana karena ramai sekali. Akhirnya gue tanya satpam dan satpam menjawab, “Kalau mau tes PCR di sini, harus ke puskesmas kelurahan dulu untuk minta rujukan. Gak bisa langsung tes disini.”

Ah, sial. Mana udah parkir motor lagi. Gue pun langsung berangkat ke puskesmas kelurahan. Eh, pulang dulu ambil helm karena rumah gue dekatnya sama puskesmas kecamatan. Sesampainya di puskesmas kelurahan, gue bilang ke petugas untuk minta rujukan, kemudian disuruh menunggu.

Setelah 10 menit menunggu, ada petugas yang datang dan bertanya kurang lebih nama, alasan swab, satu rumah berapa orang, alamat rumah dimana, dan pergi ke mana aja seminggu terakhir. Tidak lupa petugas menanyakan nomor Whatsapp karena mau modus, eh, maksudnya mau nanya-nanya data lebih lanjut karena kalau di puskesmas langsung takut terjadi hal yang tidak diinginkan.

Gue pun langsung pulang dan baru saja turun dari motor sudah ditelepon dari pihak puskesmas kelurahan. Petugas itu bertanya tentang data diri dan data orang-orang rumah. Petugas itu pun mengharuskan untuk tes satu keluarga. Gue bingung apakah keluarga gue yang satu rumah pada mau atau tidak. Ternyata, semuanya pada mau untuk mengikuti tes ini agar aman juga.

Akhirnya, kami sekeluarga akan tes PCR besok hari pukul 9 pagi.

Selasa, 22 Desember 2020

Sebagai mahasiswa yang rajin yang tidak suka bolos, pagi hari gue mengikuti kelas dulu dan kebetulan saat itu gue harus presentasi. Kelas mulai pukul 9 pagi dan gue seharusnya tes PCR di puskesmas kecamatan pukul 9 pagi. Gue berpikir paling masih mengantre jika pukul 9 datang ke puskesmas, jadi gue mengikuti kelas terlebih dahulu.

Sekitar pukul 10 pagi kelas belum selesai dan kampret-nya gue belum presentasi. Akhirnya gue memutuskan untuk berangkat ke puskesmas kecamatan aja. Kalau kebagian presentasi, presentasi di jalan. Ternyata benar, gue kebagian presentasi pas di jalan.

Sesampainya di parkiran, Nyokap udah turun dari mobil dan gue masih presentasi. Ketika selesai presentasi dan menjawab tanggapan yang ada, gue langsung mencari tempat pendaftaran PCR. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah 11 siang.

Gue dan keluarga langsung masuk ke tempat tes PCR karena petugas yang ada mau pergi ke tempat rujukan atau kemana gitu. Jadi, gue adalah pendaftar terakhir untuk tes hari itu. Enak, sih, gak ngantre, cuma gak enak juga bikin petugas menunggu. Jangan diikutin, ya, teman-teman!

Saat mendata, petugas juga sedikit menyinggung gue dan Nyokap, “Kan harusnya jam 9 pagi, kok baru datang sekarang?” Eh, nyokap malah nyalahin gue. Emang iya, sih, salah gue. Hehe.

Pengambilan sampel satu keluarga pun selesai. Kami semua di swab melalui hidung. Untuk swab yang kedua ini, menurut gue agak kedaleman sampai gue sedikit batuk dan ingin bersin. Untungnya, keluarga gue yang baru pertama melakukan swab gak takut dan merasakan sakit. Buat teman-teman yang mau tes swab, entah antigen atau PCR, rileks aja.

Kembali lagi ke pengambilan sampel. Setelah selesai ambil sampel, petugas berkata bahwa hasil akan diberitahukan 3—5 hari dari hari pengambilan sampel, berarti antara Jumat, Sabtu, atau Minggu. Baik lah, berhubung gue gak ada gejala apa-apa, menunggu sedikit gak masalah.

Sabtu, 26 Desember 2020

Sudah sejak hari Minggu gue isolasi mandiri. Sedikit berat karena setiap keluar rumah harus pakai masker dan pakai sarung tangan, gak boleh bercengkrama dengan keluarga, pokoknya mengurangi intensitas ketemu sama orang lain, deh, termasuk keluarga. Gue juga melakukan kegiatan baru, yaitu mencuci piring setiap malam ketika tidak ada piring lain di wastafel. Tak lupa, sebelum mencuci piring atau pakaian direndam dulu dengan air panas.

Dari hari Rabu, gue juga sudah mulai senam aerobik berbekal video dari Youtube. Cukup lumayan berolahraga dan mengeluarkan keringat setiap paginya. Terlebih, sebelum-sebelumnya gue jarang olahraga.

Hasil tes PCR akan keluarga antara ketiga hari, yaitu Jumat, Sabtu, atau Minggu. Berhubung kemarin tidak ada kabar, berarti bukan kemarin hasil akan keluar. Ternyata, hasil keluar hari ini, Sabtu, 26 Desember 2020

Pagi hari sekitar pukul 9 setelah bangun tidur yang kedua—yang pertama itu sekitar pukul 5 dan sebagai kaum rebahan, kurang afdol jika tidak tidur lagi—gue dikabarin sama pihak puskesmas kelurahan hasil PCR keluarga gue. Puji syukur, Alhamdulillah, hasil PCR gue dan keluarga gue, NEGATIF.

Nama orang tua gue, gue tutupin takut dikatain kayak anak kecil yang suka ngatain nama orang tua. 😀

Setelah digantungin beberapa hari, gue sekarang sudah cukup tenang. Walaupun begitu, kemungkinan beberapa hari ke depan gue akan tetap di rumah. Jikalau keluar rumah tetap menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat lagi.

Teruntuk teman-temanku dan sahabat-sahabatku yang membaca tulisan ini, jaga kesehatan kalian. Virus ini sudah menyebar di mana-mana. Makan makanan yang enak dan bergizi. Jangan lupa juga untuk berolahraga. Tidak lupa juga untuk tetap bahagia. Sebab, makin banyak pikiran, sugesti pikiran lo ke tubuh lo juga semakin gak baik.

Sekian cerita dari gue. Oh iya, gue juga sempat membeli pulse oximeter untuk menjaga-jaga jikalau gue sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG). Alat ini berfungsi untuk mengukur oksigen dalam darah. Selama beberapa hari kemarin, Alhamdulillah, oksigen gue selalu normal di atas 95%.

Tebak, yang mana hayo yang mainan?

Namun, yang gue sesalkan adalah gue membeli dua barang ini. Barang yang pertama harganya cukup murah tetapi ketika sampai gak bisa digunakan sama sekali. Bahkan, seperti mainan anak-anak aja. Untungnya, barang kedua bisa. Jadi, hati-hati, ya, gais, kalau mau membeli suatu barang. Ada harga ada kualitas. Gue membeli pulse oximeter itu yang kayak mainan hanya 35 ribu aja.

Baik, cukup sekian dari gue, ingat pesan Ibu! Terapkan protokol kesehatan! Memakai masker! Menjaga jarak! Mencuci tangan!

Jikalau ada teman-teman yang mau sharing di kolom komentar, monggo. Semoga kita semua diberi kesehatan selalu, ya. Aamiin.

You may also like:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *