Sop Buah dan Nasi Goreng Jawa

Senin, 2 Maret 2020, semua berjalan seperti biasanya. Gue kuliah masuk pukul 13:35 dengan mata kuliah Statistika yang dosennya cukup tegas seperti yang sudah gue bilang di postingan sebelumnya. Setelah kuliah, gue melakukan rapat untuk program kerja di organisasi yang gue ikuti, yaitu GEMA.

Selesai rapat, gue mengikuti diskusi publik tentang Omnibus Law yang dari situ menyadarkan gue bahwa ini cukup berpengaruh kepada calon-calon budak korporat, seperti gue. Oleh sebab itu, sebagai mahasiswa gue harus kritis terkait pembuatan undang-undang tersebut.

Malam harinya, gue pulang menuju rumah bersama seseorang tapi sebelum itu kami melipir sebentar ke tempat makan yang namanya cukup unik, yaitu Kampung Kandang. Sejauh ini gue belum pernah melihat kandang di tempat itu. Apakah dulunya di situ tempat jual kandang? Ah, tidak penting, yang penting sama kamu.

Karena banyaknya makanan yang ada, gue menjadi bingung. Akhirnya gue memutuskan untuk tidak makan soalnya juga waktu itu tidak terlalu lapar. Gue hanya memesan sop buah sebab akhir-akhir ini enggak tahu kenapa rasanya mulut gue ingin memakan dan meminum sop tersebut. Seseorang yang bersama gue memesan Nasi Goreng Jawa. Ya, karena kami berada di Pulau Jawa namanya menjadi nasi goreng jawa, kalau di pulau lain, enggak tahu, deh.

Ketika sop buah pesanan gue datang, gue melongo sebentar karena sangat-sangat tidak sesuai ekspektasi gue. Gue kira sop buah di sana seperti air yang dicampur susu beserta es batu lalu diisi dengan macam buah-buahan tetapi malah es batu yang diserut lalu dicampur dengan potongan buah-buahan.

Apa boleh buat, sudah memesan akhirnya gue makan dan minum. Sebentar, sop buah itu dimakan atau diminum, ya? Ah tidak penting, yang penting pesannya sama kamu.

Nasi Goreng Jawa pesanan seseorang yang duduk di sebelah gue sampai. Dia makan nasi gorengnya, gue memakan sop buah. Setelah makanan dan minuman sudah habis, kami berdua berbincang-bincang sedikit tentang banyak hal. Jika tidak ada salah satu diantara kita yang menahan, obrolan bisa sampai pagi hari.

Namun, tiba-tiba seperti ada yang ingin keluar. Bukan, bukan kotoran manusia karena gue tidak makan. Tapi keluarnya dari dalam dada. Ya, rasanya tulang rusuk gue ingin keluar. Eh enggak, bercanda. Pokoknya something that i feel mau mengeluarkan uneg-unegnya gitu.

Akhirnya mulut memberanikan diri untuk berbicara. “Tunggu dulu, baca post ini, deh. Main game-nya, selesaikan sampai habis.” Tahan gue. Tapi, karena sudah malam, gue mengiyakan untuk membacanya di jalan.

Ini sangat tidak sesuai skenario yang sudah gue buat matang-matang. Gue seharusnya sehabis makan duduk berhadapan dengan dia lalu mengirimkan link itu. Karena di dalam link itu ada tulisan “Orang di depan kamu.” Ah, sial.

Akhirnya gue memutar skenario supaya posisi gue tetap di depan. Dia membacanya di motor, sebab pasti gue akan selalu di depan, dia tidak mungkin membonceng gue. Hihi.

Sesampainya di depan rumah dia, dia turun dan ada sesuatu yang berbeda. DEG-DEG-AN KAMPRET! Gue bingung harus berkata apa, tiba-tiba hadir seekor kucing yang ternyata kucing peliharaan dia, Si Abang. Kami seperti kucing, malu-malu kucing.

Gue tidak beranjak pulang karena penasaran dengan jawaban yang gue tanya dari link yang sudah gue kasih. HEI! Bukan link untuk promosi jualan, apalagi video porno, bukan! Tapi di-link itu terdapat sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban, “Jadian, yuk?”

Sayangnya, gue tidak mendapatkan jawaban malam itu. “Tunggu, biar lo penasaran dulu.” Lalu kemudian dia bertanya, “Kira-kira gue bakal jawab apa?” Dengan percaya diri gue menjawab, “Iya, dong.” Yang membuat kami berdua tertawa. Ya, malam itu belum ada jawaban.

Keesokan harinya, gue seperti biasa kuliah dengan mata kuliah pertama adalah Desain User Interface sampai pukul 11 siang dan dilanjutkan dengan mata kuliah kedua, yaitu Metodologi Penelitian pada pukul setengah 3 sore. Cukup lama, akhirnya gue memutuskan untuk main ke kosan temen gue.

Kami bermain kartu remi. Tidak, tidak berjudi. Kami mahasiswa, mana sanggup untuk berjudi. Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk, gue dikasih link sama seseorang yang semalam makan Nasi Goreng Jawa. Gue ingin membuka tetapi gue tahan karena sedang bermain.

Setelah mengalah, gue memberanikan diri untuk membuka link itu dan membaca tulisannya. DEG-DEG-AN DI SINI LEBIH TERASA. Singkat cerita, jawaban ada di salah satu bio media sosialnya. Dengan sigap gue buka dan ternyata tulisannya, “yuk jadian”. Persis seperti itu tulisannya.

Seketika senyuman hadir di mulut. Enggak peduli bagaimana reaksi teman-teman gue saat itu melihat gue, seperti sedang berada di alam bawah sadar. Pokoknya gue senang.

Malam itu, sop buah dan Nasi Goreng Jawa yang sudah dibungkus, menjadi saksi. Tidak akan gue lupakan dua minuman dan makanan itu beserta tulisan di media sosialnya. Aku sayang kamu, Cilandak.

You may also like:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *