Layang-layang

Siapa yang tidak tahu dengan sebuah benda yang terbang di sore hari bernama layang-layang? Singkatnya, itu adalah sebuah benda yang terbuat dari dua bilah kayu dan kertas, kemudian dapat diterbangkan menggunakan benang. Membutuhkan angin yang kencang untuk memudahkan menerbangkan layang-layang.

Permainan layang-layang adalah salah satu permainan yang sering gue mainin dulu waktu kecil. Kebetulan, rumah gue memiliki dua lantai yang mana ketika main layangan di lantai dua, dapat memudahkan gue untuk menaikkan layang-layang. Tak jarang juga ada beberapa layangan yang nyangkut, otomatis layangan putus itu menjadi milik gue. HAHA.

Alasan lain kenapa gue lebih sering main layangan di lantai dua rumah gue adalah ketika main layangan di lapangan terkadang sulit untuk menerbangkannya karena angin tidak sekencang di lantai dua. Jadi, kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah? Eh, kebalik.

Photo by Quang Nguyen Vinh from Pexels

Sayangnya, layangan ini adalah permainan yang musiman. Ketika musim kemarau, akan ramai yang memainkannya, jika sudah memasuki musim hujan, pasti tidak ada yang menaikkannya walaupun angin saat itu sedang kencang. Ya, layangan yang terbuat dari kertas itu akan basah. Belum lagi ketika nanti ada petir. Sangat berbahaya.

Dari permainan layang-layang ini ada beberapa hal yang gue pelajari dan gue sadari. Yang pertama adalah harus kuat. Kuat di sini adalah tentang menahan diri ketika layangan sudah terbang. Ketika layangan terbang, akan banyak angin yang menghembuskannya. Saat itu lah lo harus bisa mengontrol layangan dengan baik supaya tidak nyangkut. Seperti halnya dalam kehidupan, semakin tinggi jabatan lo, semakin tinggi juga tantangan yang bakalan ada. Lo harus kuat untuk menghadapi itu supaya tidak jatuh secara tiba-tiba.

Kedua adalah merelakan, seperti ketika layangan kita putus. Sejauh ini gue jarang banget mendengar anak nangis tersedu-sedu ketika layangannya putus. Malahan, dengan layangannya putus itu anak-anak makin berambisi supaya dapat balas dendam kepada layangan yang telah memutusinya. Dari situ kita belajar bahwa kita tidak perlu menangisi hal yang tidak mungkin balik lagi, lebih baik kita mencoba move on karena kemungkinan layangan yang baru adalah layangan yang terbaik.

Ketiga adalah kontrol layangan itu hanya ada di diri lo sendiri. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi layangan itu dapat terbang, seperti angin, bambu, kertas, benang yang lo gunakan, dan lain-lain. Tapi, bagaimana layangan itu bisa terbang hanya lah dari diri lo sendiri. Semisal angin kencang, layangan bagus, namun lo gak mau naikin layangan, layangan itu gak akan terbang. Sama halnya di kehidupan, semua kegiatan yang ada di kehidupan lo itu lo yang kontrol sendiri. Mungkin, banyak sekali pengaruh atau godaan yang akan datang, tapi kalo lo gak mau, lo gak akan terpengaruh akan hal itu. Kendalinya tetap di diri lo sendiri. Lo juga harus bisa tanggung jawab apa yang lo sudah lakukan.

Itu dia beberapa pesan kehidupan yang bisa gue ambil dari main layangan setiap sore, yaitu harus kuat, bisa merelakan, dan kontrolnya hanya ada di diri lo sendiri. Mungkin, pembahasan di atas itu masih sangat singkat banget. Kali aja lo mau bahas, bisa langsung komentar di kotak komentar bawah postingan ini. Kita diskusiin soal pesan-pesan kehidupan yang bisa diambil dari bermain layangan ini.

Ngomong-ngomong, lo masih suka main layangan, gak? Main bareng asyik kali, ya. Eh, kayaknya akan susah, deh, karena sekarang masih PSBB. Semoga pandemi ini segera berakhir, ya, agar kegiatan kita semua kembali normal seperti biasanya. 🙂

You may also like:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *