Enggak Kerasa, Ya

Pasti bukan cuma gue aja yang merasakan kalau 2020 ini tahun yang begitu cepat berlalu. Gimana enggak, baru sekitar 3 bulan hidup normal, seluruh dunia terkena pandemi. Seluruh kegiatan dilakukan dari rumah mulai dari belajar sampai bekerja. Kegiatan yang hanya di rumah membuat kita menjadi enggak kerasa bahwa tahun ini segera berakhir.

Ngomong-ngomong, sudah cukup lama gue tidak nulis di blog ini. Ingin rasanya bersih-bersih blog ini dulu karena banyak debu. Sebentar, gue mau bersih-bersih blog dulu. Kalo mau nungguin, gak apa-apa.

*bersih-bersih*

*nyapu*

*ngepel*

*semprot disinfektan*

*nunggu beberapa saat*

Ya, selesai. Selesai bersih-bersih maksudnya bukan selesai nulis postingan ini.

Sebenarnya gue sudah ingin sekali menulis dari kemarin. Namun, setiap baru membuka blog dan menu admin blog ini, malah buka hal lain dan akhirnya enggak jadi nulis. Berhubung blog gue ini menggunakan wordpress.org, seringnya gue coba oprek sana-sini pada blog ini.

Beberapa hal yang sempat ingin gue tulis antara lain:

Itu yang sudah ada menjadi draft tetapi baru sekadar judul. Di tempat lain, gue sudah melakukan penjadwalan postingan di setiap kategori. Gue sudah membuat rencana posting pada aplikasi Trello. Kurang lebih hal ini yang sudah direncanakan:

Tapi, itu semua belum dapat terlaksana karena satu dan lain hal. Semoga aja di tahun depan gue semakin konsisten untuk menambah konten di blog ini karena tahun depan terdapat beberapa rencana yang akan gue lakukan pada blog ini atau dunia website. Semoga terealisasi. Dan juga pengelompokkan tulisan itu akan gue perkecil lagi. 😀

Selain karena mencoba oprek wordpress, banyak sekali godaan-godaan media sosial yang mengganggu ketika ingin menulis. Mulai dari instagram yang isinya teman pergi ke sana ke sini, twitter yang ramai perkelahian antar manusia, dan youtube yang memiliki banyak drama di Indonesia.

Maka dari itu, gue sekarang coba mau nulis sedikit hal yang sudah masuk ke dalam draft blog ini. Bukan, postingan ini bukan postingan rewind tahun ini sudah ngapain tapi gue cuma mau cerita tulisan yang sempat menjadi draft.


Salah Tangkap?

Awal Oktober 2020 terjadi aksi mahasiswa dan buruh menuntut penolakan UU Cipta Kerja di Istana Merdeka. Sebagai media kampus, organisasi yang gue ikutin, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa GEMA PNJ menurunkan anggota untuk meliput. Bukan gue yang liputan tetapi adik tingkat gue.

Kebetulan gue masuk ke grup liputan hari itu. Ya, ketika aksi atau liputan sesuatu kadang suka ada grupnya sendiri. Gue lihat situasi di pagi hari mereka semua aman tanpa adanya kendala. Saling mengabari satu sama lain dan bertemu di titik kumpul, yaitu Stasiun Juanda. Ternyata, mereka di bagi beberapa tim liputan tempat untuk liputan hari itu.

Singkat cerita, ada 3 orang dari salah satu tim itu yang hilang kabar sejak siang hari. Padahal, aksi baru dimulai sekitar pukul 2 siang. Gue pun terus berkoordinasi dengan tim liputan lain untuk mencari tim tersebut. Tanpa sepengetahuan gue ada tambahan orang di tim liputan yang hilang kabar saat itu dan orang itu sudah kurang aktif di GEMA. Makin pusing lah gue hari itu mencari kepastian dimana kah mereka semua.

Setelah 6 jam mencoba untuk menghubungi dan mencari 3 orang itu, gue dan anak GEMA lain memutuskan membuat pengumuman bahwa ada anggota yang hilang kabar. Jika kalian cek media sosial saat itu, pasti tahu berita hilangnya anggota pers ini karena sudah tersebar juga ke berbagai media nasional.

Disclaimer, awalnya GEMA hanya ingin berusaha mencari tim yang hilang kabar itu. Atas bantuan dari seluruh pihak, pengumuman hilang kabar itu tersebar kemana-mana. Gue dan tim GEMA tidak pernah berpikir akan hal itu karena fokusan kami adalah menemukan tim liputan yang hilang kabar.

Akhirnya, pada dini hari kami mendapatkan sedikit titik terang bahwa 3 orang yang hilang kabar itu sedang diamankan oleh petugas keamanan. Sebab, GEMA merupakan media kampus dan memiliki slogan ‘Media Informasi Mahasiswa’, maka diamankan.

Keesokan harinya, gue dan tim redaksi GEMA langsung menuju kantor petugas keamanan itu dan ternyata banyak sekali orang yang diamankan hari itu. Mereka dikumpulkan di satu tempat. Walaupun gue sudah bertemu dengan 3 orang yang hilang, gue masih menyayangkan kejadian diamankannya pers mahasiswa hari itu.

Ternyata, pemeriksaan untuk bebas dari pengamanan itu cukup lama melebihi 24 jam. Gue dan beberapa anak GEMA yang lain cukup naik darah karena lama sekali prosesnya karena katanya hanya diamankan. Oh iya, waktu itu GEMA juga dibantu oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers untuk proses pembebasan. Setelah 30 jam diamankan, akhirnya 3 orang itu dibebaskan satu per satu.

Aslinya gue pribadi cukup menyayangkan akan hal itu. Kenapa harus diamankan dulu padahal mereka sudah mengenakan atribut pers. Tapi, sekarang semuanya sudah bebas dan kejadian itu sudah berlalu. Ke depannya, kita semua harus lebih hati-hati.


Itu dia salah satu tulisan gue yang menjadi draft kurang lebihnya. Masih ada beberapa draft yang salah satunya akan menceritakan setahun ke belakang yang cukup melelahkan dan membuat kita harus banyak bersyukur.

Mungkin cukup sekian. Semoga aja besok gue makin konsisten menulis lagi dan mengisi konten-konten di blog ini lebih banyak lagi seperti dulu ketika gue masih menjadi anak blog sejati yang menulis setiap minggunya.

Tetap bahagia semuanya dan jangan lupa untuk menerapkan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak) agar pandemi ini segera berakhir.

You may also like:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *