Catatan Akhir dan Awal Tahun

Waktu berlalu begitu cepat. Sangat cepat. Rasanya baru kemarin saya merayakan malam tahun baru bersama tetangga, kemarin baru saja merasakannya kembali. Saya tidak ingin membicarakan tentang kegiatan di malam tahun baru. Berhubung sudah awal tahun, saya ingin menulis kilas balik selama saya di tahun 2019.

2019. Tak ada kata yang dapat terucap karena banyak sekali kesenangan dan kesedihan di tahun itu. Saya akan menceritakan beberapa kegiatan yang terjadi di tahun itu, tidak banyak karena kalau banyak nantinya postingan ini akan panjang dan anda bosan membacanya.

Hal pertama yang akan selalu saya ingat dan tidak akan pernah lupa adalah momen ketika saya pulang kampung saat lebaran. Seperti pulang kampung pada biasanya, yang berbeda adalah saya berangkat malam hari seusai ibadah tarawih. Namanya mudik, macet sudah menjadi sahabat.

Tapi, mudik tahun 2019 bisa termasuk lancar karena tol Trans-Jawa sudah lumayan rampung. Singkat cerita, ketika sudah sampai di kota paling timur di Jawa Tengah, yaitu Sragen, saya dan keluarga melipir ke rest area untuk istirahat.

Setelah saya istirahat dan sholat, saya melihat Ibu saya di dalam mobil seperti habis menangis. Saya pun langsung tanya, “Kenapa, Bu?” Ibu saya hanya menggelengkan kepalanya.

Tiba-tiba, ia berkata, “Kasihan Mbah Kung, ya, Mas.”

Saya diam. Akhirnya, saya hanya menjawab, “Kita doain aja, Bu, semoga cepat sembuh. Pasti sembuh, kok.”

Sehabis semua ke toilet, sholat, dan istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Tidak makan dan minum karena sedang berpuasa. Satu jam berlalu, kami sampai di tempat tujuan. Kampung halaman. Seperti biasa, tempat tujuan pertama saat mudik adalah rumah dari orang tua Ibu saya yang terdapat, Mbah Ti dan Mbah Kung.

Ibu saya langsung turun dan melihat kondisi ayahnya. Saya pun menyusul. Kondisinya sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Berubah drastis. Saat itu, Mbah Kung hanya bisa tiduran di kasur dan untuk bicara saja sulit.

Saya sadar, pantas saja tadi di rest area Ibu saya terlihat seperti habis menangis.

Setelah bertemu dengan Mbah Kung, saya dan Bapak baru menurunkan barang-barang dari mobil. Jujur, saya menulis ini sedih karena sangat jauh perbedaannya antara tahun 2018 dan 2019 terhadap kondisi Mbah Kung. Saya sempat mengabadikan momen di tahun 2018.

Mbah Kung yang paling kiri menggunakan kaos kerah. :'(

Keluarga saya pun selalu menyemangati Mbah Kung dan mendoakan agar beliau cepat pulih dan sehat kembali. Kami berencana untuk doa bersama di satu hari, namun, sebelum kegiatan itu terlaksana, Mbah Kung sudah tiada.

Kejadian pada tanggal 2 Juni 2019, saat itu saudara saya yang ada di Jakarta dan ingin mudik ke Banyuwangi, mampir sebentar ke kampung saya yang ada di Caruban, Madiun. Malam harinya, saya diajak sepupu saya untuk ke alun-alun. Biasa, anak muda, suka cari tempat nongkrong malam-malam.

Sekitar pukul 9 malam kami pulang ke rumah Mbah Ti dan Mbah Kung. Ternyata, saudara saya masih pada tidur semua. Rencananya mereka melanjutkan perjalan pukul 9 malam. Karena habis keluar, saya pun begadang sembari bermain PUBG di gadget.

Mbah Ti dan Bapak saya sedang mengobrol di ruang tamu. Saya juga ada di sana tetapi tidak ikut obrolannya karena fokus main game. Ketika Bapak dan Mbah Ti sudah selesai ngobrol, lampu ruang tamu dimatikan dan saya masih di sana bersama Bapak. Bapak sedang tidur di kursi dan saya masih main. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Tiba-tiba, Ibu saya datang membangunkan Bapak sambil berkata, “Bapak, bapak, itu Pak’E (sebutan untuk memanggil ayah dalam Bahasa Jawa yang berarti Mbah Kung), kok beda.”

Saya langsung mematikan gawai. Sata dan Bapak langsung ke ruang tidur Mbah Kung. Di sana sudah terdapat Mbah Ti yang memangku kepala Mbah Kung. Saya bingung. Saya pegang tubuh Mbah Kung, lemas. Saya pegang denyut nadinya, tidak ada. Saya tunggu udara dari bawah hidungnya, tidak ada.

Kebetulan waktu itu ada Pak De saya, kakak dari Ibu. Saya disuruh memanggilnya untuk meminta tolong panggilkan dokter. Setelah dokter datang, dokter langsung mengecek keadaan Mbah Kung dan jawaban dari dokter tersebut, “Pon mboten enten, Bu,” ucapnya dengan nada rendah yang artinya adalah, “Sudah tidak ada, Bu.”

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Tetes air mata mulai turun. Saya tidak tega melihat Mbah Ti yang sudah merawat selama kurang lebih 5 bulan, menangis. Mungkin memang ini jalan terbaik dan jawaban atas doa kita semua, Mbah Kung kuat dan ia tidak akan merasakan sakit lagi.

Saudara saya pun satu per satu datang. Semua memasang wajah sama, wajah kesedihan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Tapi, saya bersyukur karena sempat bertemu dengan Mbah Kung sebelum beliau pergi.

Pagi harinya, pemakaman dilaksanakan. Saat itu saya berangkat ke tempat makam bersama Ibu. Di perjalanan, Ibu menangis. Punggung saya basah karena air matanya. Saya tidak tahu harus berbuat apa, hanya bilang, “Sabar, Bu. Mbah Kung udah gak sakit lagi.”

Itu adalah cerita tersedih dan akan selalu saya ingat di tahun 2019. Saya tidak dapat menulisnya lebih lanjut karena tidak kuat. Singkatnya, setelah pemakaman kami pulang dan suasananya menjadi sangat berbeda dari hari kemarin.

Ternyata, waktu di rest area Ibu saya menangis, satu atau dua hari sebelum saya berangkat mudik, Mbah Kung sempat tidak sadarkan diri dan saya tidak diceritakan oleh Ibu. Pantas saja Ibu menangisnya seperti tersedu-sedu waktu itu. Satu kesedihan paling sedih di tahun 2019.

Selanjutnya, hal kedua di tahun 2019 yang akan saya ingat adalah saya ditunjuk sebagai kandidat ketua organisasi. Sebagai anak muda, saya suka mencoba hal-hal baru. Di kampus, supaya tidak gabut banget, saya mencoba gabung di organisasi, yaitu GEMA (Gerakan Mahasiswa), yaitu Lembaga Pers Mahasiswa.

Akhir bulan Juli 2019 kemarin, sudah waktunya GEMA regenerasi pengurus tahun 2017 ke tahun angkatan saya, 2018. Hari itu, saya tidak tahu harus berbuat apa. Deg-deg-serrr. Beberapa hari sebelum hari itu, saya konsultasi kepada teman SMP saya yang sering saya ajak untuk berkarya bersama, Alwin. Saya tanya bagaimana membuat sebuah visi dan misi yang bagus dan masuk akal.

Sebelumnya saya sudah menyiapkan visi dan misi, lalu Alwin yang menyuntingnya dan menambah sedikit pernak-pernik agar lebih nyaman saat dibaca dan didengar. Pada saat hari regenerasi dan pemilihan ketua tiba, saya menyampaikan visi dan misi saya, dan saya lupa beberapa. Maklum, gugup, hehe.

Kakak tingkat saya atau pengurus sebelumnya memberikan pertanyaan. Teman angkatan saya juga ada yang memberikan pertanyaan. Saya pun menjawabnya dengan pelan dan bingung karena jika salah kata dikit, rumit urusannya.

Ekspresi saat sedang menyampaikan visi dan misi serta menjawab pertanyaan.

Waktu voting pun tiba, dan pengumumannya adalah …

*hayo tebak*

*roll drum*

Ternyata saya mendapatkan suara terbanyak. Hanya selisih dua atau tiga suara, saya lupa. Tidak munafik, saya senang karena menang. Tapi, saya bingung harus berbuat apa setelah ini. Setelah acara pemilihan dan penunjukkan pengurus, terjadi lepas jabatan. Suasananya harusnya sedih tetapi malah jadi lucu.

Itu adalah salah satu hal yang membanggakan tahun 2019. Hal ketiga adalah, saya mengikuti lomba majalah kampus se-politeknik di Indonesia. Postingannya bisa dilihat di sini. Walaupun saya tidak menang dalam lomba kategori per orang, alhamdulillah, saya bisa membawa kebanggaan untuk organisasi yang saya tekuni.

Pengalaman yang ada pada saat lomba tersebut sangat banyak. Salah satunya adalah jangan terlalu berharap banyak. Pada saat lomba per orang, saya terlalu berharap agar mendapatkan juara sedangkan tidak mementingkan usaha, hasilnya pun akhirnya sia-sia. Jadi, lakukan saja apa yang terbaik, hasil nantinya itu urusan belakangan karena setidaknya kamu sudah melakukan yang terbaik.

Hal terakhir karena postingan ini sudah lumayan panjang, saya sepertinya bertemu orang tepat di akhir tahun ini. Bukan hanya urusan cinta tetapi juga yang lainnya. Saya merasa membutuhkan orang seperti dia. Hmmm. Nanti akan saya ceritakan lebih lanjut, hihi. Di satu postingan yang spesial. Entah dia membaca tulisan ini atau nanti, tidak peduli. Yang penting, aku suka dia sejak lama.

Cukup sekian catatan akhir tahun 2019. Tak banyak, namun, hal tersebut lah yang membuat saya tidak akan lupa. Mungkin, jika ada kesempatan dan saya masih ingat, saya ceritakan hal lain di tahun 2019.

Saya akan membuat sebuah catatan awal tahun. Sedikit saja. Tahun baru kali ini, saya merayakannya di rumah saudara saya. Saya senang karena di hari terakhir tahun kemarin, saya hampir habiskan bersama seseorang yang saya singgung di paragraf sebelum ini. Menutup akhir tahun paling konyol dan random karena kami berdua membeli burger lalu dibungkus dan dimakan di tempat jual martabak. Bingung kan?

Whopper di hari 365/365.

Lalu, malam harinya setelah antar dia pulang, saya ke rumah saudara saya. Baru sampai di sana, saya langsung disuruh untuk bakar-bakar. Memang sudah tampang koki, mau gimana lagi. 😀

Sayangnya, malam tahun baru rintik hujan masih turun. Ketika saya sedang melihat puluhan petasan ditembakkan ke awan, terdapat air yang turun sedikit-sedikit mengenai wajah. Tidak lama melihat, rintik hujan berhenti dan saya main-main dahulu keliling komplek di rumah saudara saya.

Tak lama setelah itu, saya langsung tidur. Pagi hari saya melihat ke luar rumah, hujan semakin deras. Ternyata, hujannya rata, tidak hanya di rumah saudara saya saja tetapi di Jabodetabek juga hujan. Akibatnya di beberapa kawasan terjadi banjir.

Mungkin, ini adalah awal tahun yang sengsara untuk sebagian orang. Bagaimana tidak, harusnya bahagia malah bencana yang menghampiri. Bukan hanya Jakarta tetapi kawasan di sekitar Jakarta juga mengalami banjir yang cukup parah.

Lucu, ketika warga Jakarta menyalahkan gubernurnya. Lalu, warga selain Jakarta yang mengalami bencana ini menyalahkan siapa? Saya tidak menyalahkan siapa-siapa atas kejadian ini, tapi berhubung masih awal tahun, saya ingin di tahun ini kita mulai mengaca untuk diri sendiri. Tidak melulu menyalahkan orang lain.

Bisa jadi ini sebuah teguran untuk kita semua termasuk saya. Kita harus bisa lebih menyayangi lingkungan sekitar kita. Mulai dari hal kecil, jangan membuang sampah sembarangan. Mungkin itu hal yang tidak terlalu dipedulikan karena dianggap remeh, padahal bencana yang ada di awal tahun ini, salah satu penyebab selain curah hujan yang tinggi adalah aliran air tidak bisa berjalan lancar karena banyaknya sampah yang menghambat.

Menurut saya pribadi dan mungkin bisa kita terapkan sama-sama, sebelum membuat resolusi yang banyak dan kadang tidak masuk akal, perbaiki diri sendiri terlebih dahulu apakah sanggup untuk mendapatkan dan membuat resolusi tersebut terwujud.

Tapi, kan, mimpi harus setinggi langit?

Ya, mimpi boleh setinggi langit. Tapi, apakah kamu bisa meyakinkan ketika mimpi tersebut tidak kesampaian akan jatuh diantara bintang-bintang. Atau, malah membuat kamu menjadi depresi dan lainnya?

Saya baca di suatu buku Alm. Habibie pernah berkata, ubah kata ‘mimpi’ menjadi ‘cita-cita’ supaya kita semangat dan gigih untuk mengejarnya. Selain itu, agar kita juga tahu kemampuan kita apakah cita-cita tersebut dapat kita capai atau tidak.

Cukup sekian. Semoga 2020 lebih baik dari tahun kemarin. Yuk, kita capai cita-cita di tahun ini!

Untuk teman-teman yang mengalami bencana apapun itu, semangat! Semoga cepat selesai bencana ini dan percaya bahwa akan ada hal baik dibalik semua ini. Semangat semangat!

You may also like:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *