Besok Kuliah

Tidak terasa, besok gue sudah kembali masuk kuliah. Hal pertama yang gue lakukan adalah melihat jadwal mata kuliah. Di kampus gue, sistemnya paket, jadi enggak ada tuh yang namanya rebutan mata kuliah atau isi KRS gitu-gitu. Adanya beberapa hari sebelum masuk, himpunan jurusan yang bersumber dari admin jurusan mengirim file PDF yang isinya jadwal mata kuliah dari setiap kelas.

Untuk semester 4, jadwal kuliah gue cukup padat. Sama seperti semester kemarin, biasanya hanya di jadwal-nya saja padat, jika sudah dijalankan, ada kelonggaran sedikit. Asyiknya untuk semester ini adalah, hari Senin gue enggak masuk kelas pagi. Tapi, malah siang banget, sekitar pukul setengah 2 siang. Mata kuliah di jam-jam segitu adalah mata kuliah yang membuat malas. 😀

Dan untuk semester ini, seluruh kelas yang gue ikutin adanya di gedung jurusan, kalau semester kemarin, seluruh kelas di gedung serbaguna. Kalau ada apa-apa, harus jalan lumayan jauh dulu ke gedung jurusan, seperti ambil projector, ambil absen, atau ngumpulin tugas ke ruang dosen.

Gedung jurusan gue juga letaknya sangat strategis karena tidak jauh dari kantin dan parkiran. Makanya gue senang semester ini kelasnya di gedung jurusan sendiri. Maklum, jurusan baru, gedungnya masih kecil.

Cerita liburan kemarin, gue enggak banyak pergi kemana-mana. Diawali hanya dengan tidur-tiduran di rumah sembari memikirkan sebuah ide bisnis yang konyol tapi mudah-mudahan terealisasi sampai mengikuti sebuah pengabdian. Oh iya, di awal liburan aslinya ada agenda ingin jalan bareng doi, sayangnya, dia sedang sakit, jadi agenda tersebut gagal total.

Minggu pertama, gue menghabiskan banyak waktu hanya dengan di rumah. Hidup gue rasanya bebas. Tidak ada tekanan sama sekali. Biasanya, gue harus bangun pagi dan buru-buru berangkat ke kampus, hari itu, gue bangun tidur bisa langsung tidur lagi. Enak bukan? Enak, tapi enggak bikin kaya.

Minggu kedua, harusnya bisa liburan bersama doi tetapi karena sakit, jadinya dibatalkan. Lalu di pertengahan minggu kedua gue berangkat pengabdian di Kampung Cisadon, Bogor, Jawa Barat.

Perjalanan ke sana cukup mengesankan, jalanannya cukup terjal, menanjak, belok, dan licin. Jika kalian ingin ke sana, harus berhati-hati. Hanya bisa dilalui kendaraan pilihan untuk menuju ke sana seperti motor trail atau mobil jeep.

Sesampainya di desa pengabdian, yaitu Kampung Cisadon, gue bingung ingin melakukan apa karena tidak ada sinyal dan listrik terbatas. Hanya bisa diam diri di rumah saja.

Gue pada saat pengabdian diamanahkan untuk mengisi konten lingkungan hidup. Maksudnya adalah, gue di sana akan mengajak anak-anak untuk menghias pot yang terbuat dari sampah botol plastik menggunakan cat, lalu kemudian pot tersebut ditanami tanaman.

Karena ini adalah pertama kalinya gue mengajari anak-anak, sempat takut dan demam panggung sebelum memulai pengisian konten karena takut nanti anak-anak mengira gue kurang asyik atau mereka malah asyik sendiri. Gue enggak sendirian, gue bareng Helen dan Dea sebagai pengisi materi. Gue tanya ke mereka, “Eh, gue belum pernah kayak gini, lo aja deh yang ngomong duluan, gimana?”

“Gue juga gak pernah,” jawab Dea.

“Gue pernah, tapi emang susah banget,” ucap Helen membuat gue down.

Tapi, semua coba gue keluarkan semaksimal mungkin supaya terlihat seru. Anak-anak pun tetap asyik dan tidak ada yang enggak mengikuti instruksi kami. Gue senang, ternyata penyampaian gue dan teman-teman berhasil.

Suasana saat sedang menanam pohon di pot yang sudah dicat. Foto: Arinto Purnomo

Karena waktu itu cuacanya kurang mendukung, penanaman dilakukan esok hari sembari menunggu cat pot kering. Keesokan harinya, kami menanam pohon di pot yang sudah dicat kemudian memberi tahu ke anak-anak siapa yang potnya paling bagus dan rapih.

Setelah pengumuman siapa yang bagus dan pembagian hadiah, kami pun mengucapkan kalimat perpisahan karena besok mau pulang. Semua anak-anak terlihat biasa saja tetapi tidak pada satu anak bernama Giri. Kebetulan waktu itu Giri lagi gue pangku karena setelah pembagian hadiah ada foto bersama. Saat sudah foto dan mau ganti dengan kegiatan selanjutnya, Giri terdiam tidak mau bergerak. Tiba-tiba raut wajah sedih muncul.

Gue yang ada di belakangnya bingung. Gue harus apa kalau dia menangis. Ternyata, ia tidak jadi menangis karena diledekin sama teman-temannya. Padahal, Giri sudah menutup wajahnya sembari memeluk lututnya, seperti orang ingin menangis tetapi diam-diam. Ah, sedih jadinya mengingat-ngingat kejadian itu.

Di perjalanan pulang, gue hampir nyasar karena di antara gue, Arinto, Danang, Amar, Helen, dan Dea tidak ada yang hafal jalan. Jadi, ada sebuah perpotongan jalan yang berbentuk pertigaan. Kita bisa lurus atau belok kanan. Lurus itu menanjak tetapi belok kanan jalanannya landai. Teman-teman gue yang lain pada lurus, sementara gue di belakang kurang yakin. Gue mau turun tetapi masa jalannya naik. Gak masuk akal bukan? Akhirnya gue balik arah dan mengambil jalan ‘belok kanan’. Ternyata itu adalah jalan yang benar.

Gue sampai rumah dengan selamat, tidak ada yang berkurang. Cuma satu yang kurang, kamu, #eaaaaaa huek. Ketika sampai di rumah gue langsung keluarin semua barang-barang dan bersihin badan atau mandi. Lalu gue istirahat untuk tidur.

Minggu ketiga liburan, diawali dengan gue yang jatuh sakit. Sepertinya kelelahan karena habis jalan jauh dan perbedaan suhu antara di Kampung Cisadon dengan di rumah. Tubuh gue flu dan demam. Sampai saat menulis ini, masih ada flu yang bertahan. Huh..

Di pertengahan minggu ketiga, ada rapat dan pertemuan antara tiga organisasi yang mana dinamakan Badan Otonom (BO). Pertemuan itu dilakukan karena akan adanya amandemen AD/ART IKM, oleh sebab itu diadakan pencerdasan. Tahu lah jawabannya apakah gue sudah cerdas atau belum, hehe. Ya, belum lah.

Mungkin itu saja cerita sedikit tentang liburan karena besok sudah ingin masuk lagi. Semangat buat lo yang besok juga kuliah atau kerja atau sekolah atau aktivitas positif lainnya. Kalau negatif, untuk apa disemangatin. Sekian dan makaciw! 🙂

You may also like:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *