Bandung, Kota Juara dan Cinta

Sumpeknya kota Jakarta membuat masyarakat yang tinggal di sana membutuhkan yang namanya liburan. Kayak gue dan beberapa teman gue, yaitu Farhan, Sangaji dan Pandu yang merasakan hal itu. Akhirnya kami pun memutuskan untuk liburan di akhir pekan awal bulan Desember ke Ibukota Jawa Barat, Bandung. Bandung, adalah salah satu kota favorit gue di Indonesia. Udaranya yang sangat sejuk dan dingin bisa membuat kita jadi lupa hiruk piruk kota Jakarta.

Kami berangkat pukul 4 sore pada Jumat, 30 November 2018 naik travel dari Depok, Jawa Barat. Kenapa kita naik dari Depok? Karena kampus tempat kita menuntut ilmu berada di Depok, jadi titik kumpul yang mudah adalah di sana.

Perjalanan dari Depok – Bandung menempuh waktu selama 4 jam. Lumayan lama karena di perjalanan kami merasakan kemacetan di tol Jakarta – Cikampek. Sudah hal lumrah sebab di jalan tol tersebut terdapat banyak pembangunan, seperti LRT dan membuat jalan layang.

Tempat berhentinya travel yang kita naikin itu di Baltos (Balubur Town Square). Gue dan teman-teman gue yang benar-benar baru pertama kali ke Bandung tanpa didampingi orang tua enggak tahu sama sekali itu dimana. Untungnya teknologi sekarang sudah canggih jadi kami langsung memesan taksi online untuk pergi ke tempat kita menginap malam itu di rumah saudaranya Farhan.

Rencananya, sesampainya di Bandung malam ini kami mau keliling-keliling dahulu tetapi karena tubuh sudah lelah dan masih buta arah akhirnya kami urungkan niat itu. Sebelum sampai di rumah saudaranya Farhan, sejak sampai di Baltos perut kami semua sudah keroncongan, akhirnya kami mencari makan terlebih dahulu. Waktu itu juga Farhan belum makan dari pagi.

Selesai makan kami langsung menuju ke rumah saudaranya Farhan. Setelah memberi salam dan masuk ke rumahnya, kami ngobrol-ngobrol sebentar. Saudaranya Farhan itu adalah perempuan yang sudah berumur. Farhan memanggilnya dengan sebutan ‘Bude’. Sangat baik sekali, sampai-sampai selama di Bandung kami disuruh menginap di rumahnya saja daripada di hotel, sayangnya kami sudah memesan hotel. Mau di-refund tidak bisa. Sedih.

Ketika topik yang dibicarakan sudah habis, kami langsung bersih-bersih badan sebelum tidur, lalu ngobrol-ngobrol lagi sebentar untuk memutuskan mau kemana esok hari. Akhirnya, Tebing Keraton lah yang dipilih dan akan kami kunjungi.

Mungkin karena tubuh lelah di perjalanan, kami bangun kesiangan. Niatnya bangun pukul 4 dan berangkat pukul 5 untuk melihat sunrise tetapi gagal, malah bangun pukul 5. Ternyata budenya Farhan menyiapkan sarapan untuk kami semua, mau langsung berangkat ke Tebing Keraton sehabis mandi enggak enak kalau sarapan yang dibuat tidak dicicipi. Lagi pula juga lumayan menghemat uang makan kami, hehe. Akhirnya kami berangkat sekitar pukul 8.

“Hati-hati, ya. Jangan lupa kalau ke Bandung mampir kesini lagi,” ucap budenya Farhan ketika kami pamit pergi.

Kami ke Tebinng Keraton menggunakan taksi online. Sayangnya tidak sampai depan pintu masuk Tebing Keraton. Hanya sampai di depan jalan untuk ke Tebing Keraton. Setelah turun dari mobil kami langsung ditawarkan oleh ojek penduduk sekitar.

“Ayo, naik ojek aja. Jalannya jauh sekitar 3 km, nanjak pula.” Tukang Ojek tersebut mulai menawari kami.

Setelah berpikir sebentar, kami memutuskan untuk naik ojek walaupun harganya kurang bersahabat. Satu motor sekali naik sampai ke depan pintu masuk Tebing Keraton dibayar 30 ribu, bila naik dan turun dari Tebing Keraton 50 ribu. Kami memilih yang naik dan turun.

Setibanya di depan pintu masuk Tebing Keraton kami langsung membeli tiket dan langsung masuk mencari tebing tersebut. Untuk menuju ke tebing kami harus jalan dulu melewati hutan kecil. Hawa yang sangat sejuk dan pemandangan kanan kiri adalah pepohonan membuat tidak terasa lelahnya perjalanan kami. Ketika sudah sampai tebing, tidak ada kata lain yang keluar dari mulut gue selain, “Wah!”.

Jujur, tempat ini benar-benar-benar-benar-benar bagus dan sangat recommended untuk masyarakat terutama Jakarta yang bosan akan kemacetan, asap kendaraan dan teman-temannya. Hijaunya pemandangan yang ada dan udaranya yang sejuk dan dingin membuat kalian akan lupa dengan tugas-tugas kampus kalian atau tugas yang lain. Walaupun matahari terik tetapi panasnya tidak terasa karena kalah dengan angin sepoi-sepoi yang ada di sana.

Foto: Sangaji

Kami pun langsung mengambil gambar (alias foto-foto) di sana tetapi gue memilih untuk diam sebentar dan menikmati pemandangan yang ada di sana. Gue diam sebentar karena pemandangan seperti ini jarang sekali gue rasakan. Rasanya ingin pindah ke tempat ini saja. Hampir air mata menetes karena teringat sesuatu tetapi niat itu gue urungkan dan langsung ikut foto-foto bareng teman-teman gue.

Dari tebing tersebut, kami memutuskan untuk berkeliling dahulu di hutan yang ada di sekitar wilayah Tebing Keraton. Setelah bosan, kami akhirnya turun menggunakan ojek dan langsung menuju tempat wisata berikutnya, yaitu TAHURA (Taman Hutan Raya).

Fyi, satu tiket di Tebing Keraton ini terintegritas dengan tempat wisata yang ada di sekitarnya, seperti Tahura, Goa Belanda, Goa Jepang, dan lain-lain. Jadi, tidak perlu menghabiskan uang banyak untuk tiket masuk tetapi menghabiskan uang hanya untuk ojek karena lokasinya cukup jauh. Saran gue kalau kesini mendingan sekalian sewa motor dari kota Bandung.

Awal masuk di Tahura, kayak di Kebun Raya Bogor. Bedanya kalau di Kebung Raya Bogor jalanannya agak luas kalau di sini tidak. Tahura ini adalah tempat wisata yang bisa tembus ke Goa Jepang, Goa Belanda, Curug yang gue lupa apa namanya, dan beberapa tempat wisata lainnya. Pokoknya tempat wisatanya masih berhubungan dengan alam.

Ketika sedang berjalan tiba-tiba Sangaji bilang, “Lo tahu enggak, sih, kalau misalnya ada kata terlarang disini?”

Gue langsung berhenti dan menoleh ke arah Sangaji, “Apaan emang?”

Sangaji pun langsung menuliskan kata itu di handphone-nya karena tidak berani menyebutkannya. Kata tersebut adalah ‘Lada’. Setelah menulis dia langsung berkata, “Tapi, enggak tahu juga, sih, kata terlarangnya itu berlaku disini atau di Goa Belanda. Pokoknya itu, deh kata terlarangnya.”

Kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Intinya, sih, mau dimana pun kalian jangan pernah sembarangan ngomong. Perjalanan kali ini lebih seru karena banyak sekali hewan-hewan yang masih berkeliaran seperti tupai dan monyet.

Foto: Sangaji

Ngomongin monyet, sepertinya di sana itu terdapat dua tempat monyet. Tempat pertama berhasil kami lewati karena kebetulan saat itu situasi sedang ramai dan monyetnya kebanyakan di atas pohon. Tapi, di tempat kedua, saat berjalan ke arah Goa Belanda ada monyet yang berada di bawah pohon, dia lagi ada di pinggir jalan. Kami pun tetap jalan seperti biasa sembari melihat monyet itu.

Waktu itu gue posisinya paling depan. Gue tatap monyet itu, eh, ternyata monyetnya natap balik. Gue jalan pelan, ternyata monyetnya malah menghampiri gue secara pelan juga. Dia diam dan mengeluarkan suara seperti suara orang ngorok. Gue panik, tanpa basa-basi gue langsung lari dan teman-teman gue yang di belakang juga ikutan lari. Ternyata monyet itu mengejar kami. Untungnya, pas kami lari ke belakang, sudah banyak orang, jadinya monyet itu langsung balik lagi ke asalnya.

Otomatis waktu itu kami ditertawakan oleh para pengunjung lain yang melihat. Kami pun juga tertawa karena ada-ada saja hal aneh yang kami alami. Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak ke Goa Belanda karena takut dikejar monyet terulang kembali.

Kami jadinya ke Goa Jepang dan ternyata isinya hanya goa saja, tidak ada apa-apa karena mungkin barang-barangnya sudah dibawa keluar. Gue waktu itu masuk ke Goa Jepang dan kata tour guide waktu itu, Goa Jepang ini adalah tempat peristirahatan para tentara Jepang dulu dan juga markas.

Selepas dari Goa Jepang kami keluar dari Tahura dan hujan turun. Bingung mau kemana hujan-hujan, akhirnya kami langsung turun saja dari daerah Tebing Keraton (yang kata abang-abang ojek itu adalah daerah Patahan Lembang) ke Bandung Kota untuk pergi ke hotel yang sudah kami pesan. Sebelum ke hotel kami mampir dulu untuk membeli makan. Ketika perut sudah terisi penuh, kami langsung pergi hotel, lalu istirahat dan bersih-bersih tubuh.

Setelah sholat Maghrib, kami keluar dari hotel karena lapar dan langsung lanjut pergi ke Jalan Cihampelas mencari sesuatu yang layak untuk dibawa ke rumah. Mungkin karena malam minggu, jalanan waktu itu sangat macet tetapi tidak mengurungkan niat kami untuk pergi karena sudah terbiasa kena macet di Jakarta.

Kami ke Cihampelas Skywalk yang katanya nanti di Tanah Abang akan dibuat seperti itu juga. Menurut gue, memang bagusan seperti itu untuk penataan pedagang kaki lima karena pedagang kaki lima yang tadinya berjualan di pinggir jalan menjadi teratur dan rapih berjualan di Skywalk ini. Istilahnya tidak membuat semrawut jalanan.

Sehabis mendapatkan oleh-oleh, kami kembali ke hotel untuk istirahat sebentar dan melanjutkan jalan-jalan lagi ke Alun-Alun Bandung karena kebetulan jarak dari hotel ke alun-alun sangat dekat. Pukul 12 malam kami keluar dari hotel untuk pergi jalan-jalan sembari hunting foto di alun-alun dan sekitarnya, seperti Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga.

Belum ke Bandung kalau belum kesini, katanya. (Foto: Gue dong yang foto)

Besok paginya, kami hanya pergi cari sarapan di dekat alun-alun dan kembali lagi ke hotel untuk istirahat karena lelah kemarin selama seharian jalan-jalan. Sekitar pukul setengah 10 pagi kami semua siap-siap untuk kembali ke Jakarta dan pada pukul 11 siang kami berangkat ke stasiun.

Kereta berangkat pukul setengah 2 siang tetapi kami berangkat dari pukul 11 pagi bukan karena takut terlambat atau kenapa tetapi karena kami belum menukarkan tiket. Fyi, gue beli tiket kereta itu sekitar H-7, hasilnya gue dapat kereta dan nomor kursi sisa alias yang belum terjual dan seadanya.

Waktu itu gue beli tiket kereta api melalui Bukalapak. Jadi, harus menukarkan tiket kereta api yang asli dulu di stasiun. Pengalaman gue menggunakan Bukalapak untuk membeli tiket kereta sangat lah mudah dan tidak membingungkan pengguna. Pertama dan yang paling utama kalian harus memiliki aplikasi Bukalapak. Kalian bisa download di Play Store atau App Store.

Setelah download, kalian harus login dulu ke akun kalian, kalau belum punya akun bisa langsung daftar di aplikasinya. Selesai daftar atau login, buka menu Tiket Kereta.

Nah, di situ kalian bisa pilih sekali jalan atau pulang pergi. Gue mau kasih tahunya yang sekali jalan. Kalian langsung isi stasiun asal dan stasiun tujuan, tanggal keberangkatan dan berapa jumlah tiket untuk dewasa atau bayi, lalu pilih ‘cari’.

Nantinya akan tampil kereta api yang ada di hari tersebut dari stasiun mana, berangkatnya pukul berapa dan harga keretanya itu berapa. Misalnya kalian pilih salah satu kereta api dan jam keberangkatan kayak yang gue contohin. Kemudian kalian pilih ‘Pesan Tiket’.

Sehabis itu akan tampil data akun Bukalapak kalian dan data penumpang. Kalian bisa membeli untuk kalian sendiri dan juga untuk orang lain yang nitip ke kalian. Bermanfaat bukan?

Setelah mengisi data penumpang, kalian bisa langsung pilih kursi atau lewati pilih kursi. Waktu itu, sih, ketika gue pesan langsung sekalian pilih kursi. Ternyata ramai sekali, sampai-sampai lokasi duduk gue terpisah sama teman-teman gue, untungnya masih satu gerbong.

Ketika sudah berhasil memesan, kalian akan diberi pilihan untuk membayar menggunakan apa dan bisa memasukkan kode promo bila ada. Jika sudah membayar, akan terdapat notifikasi di aplikasi Bukalapak kalian dan ada juga di email kalian. Oh iya, terdapat tambahan biaya layanan sebesar 4.500 rupiah.

Berikut adalah tiket yang dikirim melalui email. (Gambar: Dok. Pribadi)

Untuk cara tukarnya, waktu itu, sih, gue gampang banget. Tinggal scan barcode atau memasukkan kode booking yang ada di email atau aplikasi, lalu cetak. Benar-benar mudah, deh, pokoknya beli tiket kereta api di Bukalapak.

Sebelum kami berangkat ke Jakarta, kami melipir sebentar di kantin stasiun tersebut untuk mengisi perut supaya di perjalanan tidak kelaparan. Lagi pula juga waktu sudah siang dan makanan di kereta biasanya, mahal, hehe.

Kereta api kami berangkat agak telat kurang lebih 10 menit tetapi tidak masalah buat gue dan teman-teman gue, yang penting kami selamat sampai di Jakarta. 3 hari 2 malam di Bandung yang cukup mengesankan buat gue. Banyak hal yang tidak terduga dan terencana. Pokoknya buat kamu yang mengadu nasib atau kuliah atau hidup di Jakarta, Bandung adalah salah satu tujuan yang tepat untuk merelaksasikan diri.

Akhir kata, Bandung adalah kota juara dan aku cinta Bandung.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog BukaReview. Yuk ikutan buat kamu yang belum ikutan! 🙂

Menangkan hadiah sebesar Rp25 juta untuk pemenang utama dan hadiah total sebesar Rp60 juta dengan menulis di blog!

You may also like:

35 Comments

  1. Eh aku dan adik dulu pernah juga lho dikejar monyet ekor panjang hehheee…otomatis kami jadi tontonan dan kenangannya diingat sepanjang masa. Seru loh tapi, iya kan? ga semua orang seberuntung kita 😀

  2. Aku uda 9 tahun di Bandung, tapi belum pernah ke Tebing Keraton, Puncak Bintang dan kawan-kawannya.
    Hanya berani nyetir sampai Tahura…itupun ga masuk ke Gua Belanda.
    Entah kenapa, aku cenderung menghindari daerah wisata hutan, gua, laut.
    Hahahha~

    Terus kemana doonk yaa…??

  3. Dari dulu Bandung sudah dekat di hati,,tidak hanya saya tetapi keluarga dekat saya sekalipun kami bukan berasal dari Jawa. Pengen untuk selalu datang dan datang ke kota itu…

  4. Lha kampusnya mana? Aku ada rumah di Depok Kelapa Dua, deket sama UI, UP, bahkan Gunadarma. Pingin juga euy dari Depok ke Bandung. Tapi kalau ke Tebing Keraton recomended bawa anak-anak enggak ya? Anyway itu quote Pidi Baiq bikin baper

    1. Politekniknya UI, PNJ, hehe. Bisa tuh naik travel dari Depok ke Bandung. 😀

      Recommended tetapi harus dijaga anaknya biar enggak terjun. HAHAHA.

      Selau baper kayaknya quote dari Ayah Pidi. 🙂

  5. quote yang di dinding jembatan layang itu Bandung banget. Lebih tepatnya Bandung kekinian, yang selalu menyisakan rindu.
    Seperti kata Dilan, Bandung kini menjadi kota penuh rindu.
    Semoga lekas-lekas deh aku main-main ke sini, hohhooo

  6. Aku setuju sih kalo dibilang Bandung itu kota romansa, beberapa kali ke Bandung aku selalu pengen ke sana buat ketemu Akang pujaan hati /apa wkwkwk tapi juga pengen banget ke goa belanda etc. Wuih jadi pengen berangkat nih. Apa besok aja ya terus langsung beli tiket di buka lapak wkwkww

    1. Enggak tahu juga saya karena enggak ngomong. 😀

      Kayaknya Risa Saraswati pernah coba, silahkan ditonton youtube-nya, lihat apa yang terjadi.

  7. Tahu gak sih tulisan “Dan Bandung bukan mrupakan masalah geografis bla bal” dulu aku kira cuma editan foto lho hahaha 😛
    Duh jd pengen deh ke Bandung lagi mas. Moga tahun ini bisa ke Bandung lg. oooo di Bukalapak bisa mesen tiket kereta api jg ya? sip2 😀

  8. aiiihhhh emang ya bandung itu selalu ngangenin.. Apalagi aku yang sempat tinggal 4 tahun di sana selama kuliah dan dapet jodoh juga di sana wkwk, rasanya pengen balik lagi aja untuk refreshing ke bandung.

    1. Ngangenin banget. Bandung emang kota penuh cinta dan cintaku juga ada di sana, hehe. 😀

      Silahkan ke Bandung lagi. 🙂

  9. sama . aku dulu pas pertama kali mau ke goa jepang semangat banget wkwkwkwk sampe di lokasi dalam hati ” gini doang? ” tapi sebagai pemudi yg baik ga boleh jas merah (jangan lupakan sejarah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *