:’)

Enggak kerasa, bener-bener waktu berlalu begitu cepat. Rasanya ingin mengulang kembali waktu tetapi percuma. 2018, sudah berakhir. Hampir semua kejadian-kejadian atau hal-hal yang terjadi di tahun kemarin adalah kesedihan. Ada yang sedih karena bahagia, ada juga sedih karena terluka.

Sebelumnya, selamat tahun baru 2019, semoga aja di tahun ini lebih baik dari tahun kemarin #resolusibasi. Percuma juga bikin resolusi kalau misalnya kita enggak ada pergerakan sama sekali. Betul tidak? 😀 Pokoknya, hari ini harus, wajib, kudu, musti, lebih baik dari hari kemarin.

Berhubung tahun 2018 sudah berakhir, gue mau flashback dikit tentang tahun kemarin. Kebanyakan cerita-cerita di tahun kemarin seperti yang sudah gue bilang adalah kesedihan. Mau tahu enggak ceritanya gimana? Cekibrot!

Btw, aslinya gue mau menulis postingan ini dari akhir tahun kemarin atau enggak awal tahun ini kayak tanggal 1, 2 atau 3. Tapi, karena kebetulan di awal tahun ini ada acara dari kampus, jadinya rencana itu gagal total. Walaupun begitu, gue sudah menulis beberapa draft untuk tulisan ini dan alhamdulillah acara gue bisa dibilang sukses walaupun ada beberapa kekurangan, hehe.

Cekibrot!

Ujian Kehidupan

Tahun 2018 adalah tahun dimana gue mengalami banyak sekali ujian. Maklum, udah menjadi kelas sulung di sekolah. Gue nyebutnya ujian kehidupan karena gue ngerjain soal-soal ujian itu hidup. Ya, kalo enggak hidup gimana ngerjainnya. Ujian pertama dimulai bulan Februari, waktu itu ujian praktik dari sekolah. Selama satu minggu penuh ujian itu dilaksanakan. Yang paling seru dari ujian ini waktu ujian praktik pelajaran Seni Budaya dan yang paling panik waktu ujian praktik kimia. Untungnya ujian praktik ini selama satu minggu penuh berjalan lancar tidak ada kendala, alhamdulillah.

Dilanjutkan dengan ujian-ujian yang lain seperti Ulangan Akhir Semester (UAS), Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN). Ngomong-ngomong, waktu ujian sekolah gue mendapatkan pengalaman baru, yaitu ujian susulan. Ya, biasanya gue susulan cuma ulangan harian, eh, karena sakit enggak ada yang tahu, gue ujian sekolah harus susulan. Sehari gue tidak masuk waktu ujian sekolah pas pelajaran fisika dan ekonomi. Panik? Pastinya. Tapi, namanya sakit, mau gimana lagi.

Ketika susulan, pengawas ujian waktu itu adalah salah satu guru galak di sekolah gue. Sebelum soal dibagikan, dia tanya kepada murid-murid yang susulan. “Ini anak IPA semua, ya?”

“Iya, Bu,” jawab setengah dari siswa yang susulan, termasuk gue yang jawab.

“Heran saya, anak IPA, kok, ujian sekolah bisa susulan.” Gue langsung tatap-tatapan sama teman gue.

EMANG KENAPA GITU, LHO? Mana ada, sih, orang minta penyakit atau menolak penyakit. Tapi, gue abaikan pernyataan pengawas tersebut dan fokus untuk menjawab soal.

Lain cerita lagi ketika Ujian Nasional (UN). Malam sebelum UN gue enggak bisa tidur. Ya, mungkin gue insomnia karena grogi besok pagi mau ujian. Mata udah gue pejamkan tetapi tetap aja enggak pules-pules. Yang ada malah bosen. Kalau tidak salah gue tidur sekitar pukul 1 atau 2 gitu.

Pagi harinya, mata gue ngantuk banget dan agak-agak pusing waktu berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah gue langsung lari ke barisan kelas gue. Ya, gue hampir telat. Ada niatan mau susulan lagi, tapi gue mikir-mikir ini ujian nasional, kalau mau susulan ribet.

Walaupun mengerjakan soal dalam keadaan kepala pusing, semuanya berjalan dengan lancar dan gue insomnia bukan hari pertama saja, hampir setiap hari tetapi waktu tidurnya semakin hari semakin cepat. Jadinya juga pusingnya semakin hari semakin berkurang.

Di hari terakhir UN, gue sudah berserah diri kepada Tuhan. Gimana pun yang terjadi hari ini, terjadilah karena hari terakhir UN. Kampretnya, ketika lagi baris-berbaris diberi pengarahan, ada burung yang kebelet pup, kena lah pundak gue yang dijadikan tempat kotorannya berlabuh. Ternyata bukan cuma manusia aja pagi-pagi yang kepengen pup, burung juga.

“Nanti semuanya kalau pulang harus dijemput sama orang tua,” tutup kepala sekolah yang memberi petuah-petuah sebelum ujian nasional agar siswa langsung pulang ke rumah tidak coret-coretan.

Waktu ujian berlangsung ternyata ada razia di kelas buat naruh tas. Pihak sekolah takutnya ada siswa atau siswi yang membawa seragam putih abu-abu untuk coret-coretan setelah ujian. Kenapa razia seragam itu? Karena hari Kamis sekolah gue menggunakan batik. Kemungkinannya kecil kalau coret-coret pakai seragam batik, jadinya pihak sekolah mengadakan razia itu.

Ada beberapa temen gue yang seragamnya disita, untungnya gue waktu itu enggak bawa, jadinya aman. Sudah diberi pengarahan untuk tidak coret-coretan dan sudah ada razia seragam tetapi acara coret-coretan sekolah gue tetap dijalankan. Sekitar pukul 3 sore gue pergi ke tempat tongkrongan sekolah gue untuk memulai coret-coretan.

Awalnya gue agak-agak jaim gitu untuk coret-coretan tetapi setelah satu kali menggunakan pylox, malah ketagihan. Sehabis baju dicoret-coret, kami semua tanda tangan di masing-masing seragam. Masa SMA sudah berakhir. :’)

Gue di barisan paling depan dan bawah, kedua dari kanan. Lihat kan?

Ujian yang gue hadapin bukan cuma sampe itu aja. Banyak sekali ujian lain yang membuat patah hati lebih dari diputusin sama pacar. Akan gue ceritakan di bagian setelah ini.

2018, Patah Hati Mengesankan

Beda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun 2018 gue enggak pacaran dulu. Walaupun begitu, gue tetep merasakan yang namanya patah hati. Tidak berharap ke seseorang tetapi berharap kepada sekolah kedinasan dan beberapa perguruan tinggi.

Patah hati pertama adalah ketika pengumuman SNMPTN, itu loh, masuk perguruan tinggi lewat jalur rapot. Saat itu diumumkan sore hari dan gue lagi jalan-jalan bareng temen-temen sekolah gue ke Puncak, Bogor, Jawa Barat karena hari pengumumannya beberapa hari setelah UN.

Pengumumannya pukul 5 sore tetapi karena mungkin banyak yang membuka website itu, server jadi penuh dan untuk mengakses menjadi sulit. Akhirnya gue memutuskan untuk membukanya setelah maghrib. Pengennya, sih, gue bukanya besok siang ketika sudah di rumah karena takut, namun setelah dipikir-pikir hari itu juga gue buka.

Setelah sholat Maghrib, gue dan beberapa temen gue yang mendapatkan kuota untuk SNMPTN langsung coba membuka. Dengan menuliskan NISN dan kode apa gue lupa, ternyata hasilnya kurang lebih begini.

Ya, gue enggak dapet. Langsung kepikiran di kepala gue, “Anjir, gimana nanti gue kuliah.” Kemudian beberapa temen gue coba buka juga dan hasilnya kebanyakan sama kayak gue. Cuma satu orang yang keterima. Walaupun merasakan penolakan, gue enggak sedih-sedih amat karena bukan cuma gue doang yang enggak dapet. Masih ada jalan lain untuk kuliah.

Setelah pengumuman SNMPTN, selanjutnya adalah pengumuman PPKB UI. Waktu itu gue mengambil Vokasi Komunikasi Universitas Indonesia. Untuk PPKB UI ini gue lumayan percaya diri karena tahun lalu banyak yang diterima dari sekolah gue. PPKB UI adalah jalur undangan dengan lihat nilai rapot dari Universitas Indonesia. Gue enggak ambil yang S1 karena biayanya mahal banget, akhirnya gue pilih yang vokasi.

Hari pengumuman waktu itu dimajukan dan seperti biasa, diumumkan sore hari. Selepas pulang dari tempat les untuk belajar SBMPTN, gue langsung pulang dan ingin rasanya langsung melihat pengumuman itu. Seperti biasanya, website pun lemot karena mungkin yang buka buanyaaakk.

Setelah berhasil untuk masuk ke website tersebut, gue langsung membuka menu pengumuman dan hasilnyaaa….

Yap! Gue gagal lolos dari jalur PPKB UI. Sedih? Lumayan. Banyak diantara temen-temen gue yang dapet PPKB UI, sedangkan gue, tahu sendiri lah jawabannya. Masih ada jalur lain lagi, gue percaya kalau udah rezeki mah enggak akan kemana.

Akhirnya pengumuman terakhir untuk jalur rapot, yaitu PMDK-PN. Pokoknya itu jalur rapot untuk masuk Politeknik Negeri gitu. Karena gue tidak boleh keluar kota, akhirnya Politeknik Negeri Jakarta lah yang gue pilih. Pengumuman ini beda dari sebelum-sebelumnya, pengumumannya pagi hari dan seperti biasa, agak lemot ketika membukanya karena banyak yang akses. Hasilnya adalah….

Hehe, ditolak lagi. Gue pun tidak menyerah dan tetap belajar untuk SBMPTN dan sekolah kedinasan. Setelah itu ujian-ujian tulis untuk masuk perguruan tinggi dimulai.

Pertama adalah SBMPTN, alhamdulillah, berjalan lancar tanpa kendala apa-apa. Akan tetapi, pengumumannya 2 bulan lagi, lama sekali. Kedua, gue ikut ujian tulis untuk masuk sekolah kedinasan, waktu itu yang gue pilih adalah Politeknik Statistika STIS. Pengumuman STIS tidak lama, beberapa minggu setelah ujian langsung diumumkan. Deg-degan karena ini satu-satunya kedinasan yang gue pilih. Hasilnya ternyataaa…

Gagal lagi dan lagi. Sempet kecewa karena salah satu harapan kedua orang tua gue, gue bisa masuk sekolah kedinasan. Gue pun mencoba melupakan penolakan ini karena masih ada pengumuman SBMPTN.

Ketika bulan puasa, gue juga coba ikut UMPN (Ujian Mandiri Politeknik Negeri). Gue pun belajar lagi setelah lupa karena waktu ujiannya itu kalo enggak salah sebulan dari SBMPTN dan ujian sekolah kedinasan. Setelah dilihat-lihat, soalnya enggak terlalu sulit tetapi saingannya yang lumayan sulit.

Waktu itu gue ujian di Politeknik Negeri Jakarta. Setelah dilihat-lihat yang mengikuti ujian, banyak juga temen-temen dari SMA gue yang ikut ujian ini. Singkat cerita, UMPN juga salah satu ujian yang pengumumannya sangat-sangat cepat.

Pengumumannya malam hari, kalo enggak salah sekitar pukul 7 malam. Enggak kayak pengumuman sebelum-sebelumnya, pengumuman ini berisi file yang isinya nama-nama manusia yang lolos. Gue pun cari nama gue dari jurusan yang gue pilih pada saat UMPN. Ternyata, nama gue enggak ada, gue enggak lolos lagi. Gue waktu itu enggak kepikiran untuk foto atau screenshot karena gimana caranya, nama gue enggak ada. Pokoknya enggak lolos.

Harapan gue satu-satunya tinggal di SBMPTN. 2 bulan bukan waktu yang sebentar. Setelah lebaran, SBMPTN baru diumumkan. Bahkan setelah gue mudik dan kembali lagi ke Jakarta pun belum diumumkan.

Akhirnya, tiba lah hari pengumuman SBMPTN. Dag dig dug terasa sejak pagi. Jadwal pengumuman pukul 5 sore tetapi dimajukan menjadi pukul 3 sore. Waktu itu gue bukanya enggak tepat pukul 3 sore karena pasti lemot, gue pun memutuskan untuk sholat Ashar dahulu.

Selepas sholat, gue langsung membuka website pengumuman dan hasilnya adalahhh………

Gagal lagi, lagi, lagi, lagi dan lagi. Wah, pikiran gue udah enggak karuan waktu itu. Sedihnya ini beneran sedih. Satu-satunya harapan gue hilang begitu saja. Bahkan, gue waktu itu ngeliat nyokap wajahnya langsung berubah menjadi sedih. Gue enggak nanya gimana dia saat itu tetapi gue udah yakin dia sedih-sesedih-sedihnya.

Bingung. Enggak tahu arah. Enggak tahu mau kemana. Gue pun akhirnya mencari jalan keluar untuk mengikuti ujian mandiri. Tapi, sebelum itu, esok hari setelah pengumuman SBMPTN gue mencoba mendaftarkan diri ke salah satu kampus swasta di Jakarta. Untuk jaga-jaga kalau misalnya enggak keterima ujian mandiri.

Dari banyaknya ujian, akhirnya ujian mandiri Politeknik Negeri Jakarta yang akan gue ikutin. Sisanya kebanyakan luar Jakarta dan waktu itu ujian mandiri Universitas Negeri Jakarta kalo enggak salah jadwalnya berbarengan juga kayak Politeknik Negeri Jakarta. Untuk ujian mandiri, belajar gue lebih intensif lagi. Gue enggak mau ngecewain kedua orang tua gue dan ngecewain diri gue sendiri untuk kesekian kalinya.

Hari ujian pun tiba, ada beberapa soal yang enggak gue jawab karena enggak tahu. Singkat cerita, hari pengumuman ujian mandiri tiba. Hari pengumuman waktu itu bersamaan dengan hari pengambilan ijazah. Tapi, gue enggak ambil hari itu karena enggak mau ninggalin momen pengumuman ini sama nyokap.

Pengumumannya siang hari. Gue pun mencoba untuk mencari nama gue di program studi yang gue pilih waktu ujian mandiri. Di program studi pertama, enggak ada. Yang kedua, juga enggak ada. Waktu itu gue pilih tiga karena maksimalnya tiga. Dan gue lihat pilihan terakhir gue, dag-dig-dug-dag.

YASHHHH!!! Akhirnya gue keterima juga. Enggak ada lagi pikiran yang muncul di kepala gue tentang kuliah dimana dan lain-lainnya. Alhamdulillah pokoknya gue keterima.

Tidak perlu gue foto pengumuman itu karena berbentuk file yang isinya nama-nama siswa yang lolos. Cara pengumuman lolosnya sama seperti pengumuman UMPN.

Seketika hati gue masih dag-dig-dug tetapi bangga. Gue ngeliat wajah nyokap juga bangga dan dari raut wajahnya, nyokap seperti ngomong dalam hati, “Akhirnya anak gue keterima juga di perguruan tinggi. Enggak pusing-pusing lagi, deh, gue.”

Enggak gampang untuk lolos di perguruan tinggi. Saingan lo bukan cuma di sekolah lo tetapi di seluruh Indonesia. Pesan gue buat kalian yang mau ujian-ujian masuk perguruan tinggi, belajar yang lebih banyak karena walaupun lo udah belajar banyak, di luar sana banyak yang lebih belajar banyak.

2016, patah hati ringan. 2017, patah hati lumayan. 2018, patah hati mengesankan. Patah hati bukan cuma soal percintaan sesama manusia, ketika lo ditolak atau tidak diterima oleh perguruan tinggi juga termasuk patah hati karena cita-cita lo mungkin salah satunya adalah masuk perguruan tinggi. So, tetap semangat dan sukses selalu untu kita semuanya!

Ketemu Orang-Orang Yang Wah

Mungkin buat kalian ketemu menteri atau orang yang berkutat di pemerintahan itu biasa-biasa aja tetapi menurut gue itu adalah sesuatu hal yang wah. Tahun 2018, gue banyak sekali bertatap muka dengan banyak orang yang menurut gue wah, bukan cuma hanya menteri-menteri saja.

Gue bisa bertatap muka dengan Najwa Shihab, salah satu jurnalis favorit gue di acara Bukalapak dan di acaranya dia. Walaupun tidak sempat foto tetapi gue sudah senang bisa bertatap muka dengan dia.

Selanjutnya, gue bisa ketemu dan melihat orang-orang penting jadi pembicara dalam satu acara. Seminar yang diadakan oleh @aktivismilenial itu bener-bener menjadi salah satu acara terfavorit gue di tahun 2018. Gimana enggak, pembicaranya itu bener-bener menginspirasi untuk kamu milenial kayak gue.

Dalam acara tersebut ada Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, Faldo Maldini, Erick Thohir, Tsamara Amany, Rudiantara (Menkominfo). dan masih banyak lagi. Semua pembicara dari masing-masing bidang berbagi pengalaman hidup mereka. Jujur, gue terinspirasi dengan kinerja semua pembicara pada saat itu. Gue punya tekad dan mimpi untuk bisa berbicara seperti mereka semua beberapa tahun ke depan. Semoga aja kita juga bisa jadi orang yang berpengaruh untuk orang lain. Aamiin.

Di tahun 2018 juga gue ketemu sama Mendikbud yang kebetulan satu kampung sama gue. Jujur, waktu itu gue pengen curhat tentang soal Ujian Nasional yang kampret banget tetapi gue urungkan niat itu. 😀 Untuk cerita-cerita ketemu Mendikbud ada di postingan gue yang ini.

Jadi Mahasiswa

Awal pertama ke kampus ada rasa bangga pada diri gue. Di perjalanan ke kampus, gue ngomong sendiri dalam hati yang intinya adalah omongan rasa syukur bahwa Tuhan masih kasih rezeki gue di tahun ini untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Setelah berkali-kali mengalami penolakan dan patah hati, akhirnya keterima juga. :’)

Jujur, hari pertama ke kampus ada rasa lelah karena perjalanan gue untuk menuntut ilmu kali ini jauh banget. Biasanya dari rumah gue ke SMA yang cuma ditempuh 5 menit, sekarang dari rumah ke kampus bisa 30 menit. Walaupun begitu gue enggak bisa menolak keadaan itu. Sudah jalannya gue mendapatkan ilmu baru seperti itu.

Kuliah gue tidak seperti kuliah yang gue kira. Sistemnya hampir sama kayak di SMA gue. Entah ini di kampus atau cuma di kelas gue aja, setiap absen pasti disebutin namanya satu per satu. Bener-bener kayak di sekolah bukan? Selain itu juga kalo misalnya telat, ada hukumannya yang nanti bakalan diurus setelah ujian akhir semester. Bisa membayar waktu telat atau kerja fisik seperti cat tembok kampus atau yang lainnya.

Gue dan temen-temen sekelas di kampus.

Meskipun begitu, gue harus tetep menjalaninya karena ini adalah hasil dari kerja keras gue hari kemarin. Oh iya, uniknya lagi di kampus gue ada razia rambut kayak di sekolah. Untungnya info razia itu sudah bocor sehari sebelum ada razia rambut, jadinya gue menyempatkan diri dulu untuk potong rambut.

Ternyata, kenapa kampus gue ini terlalu ketat karena katanya, kata temen gue, agar siap masuk di dunia kerja. Mana ada orang kerja yang tidak disiplin dan penampilannya tidak rapih. Hmmm.. Bener juga, sih. Tapi, kan..

Enggak jadi tapi, deh.


Mungkin itu aja pengalaman-pengalaman yang gue ceritakan pada tahun 2018. Aslinya banyak pengalaman baru setiap harinya tetapi kalo gue tulis selama 365 hari, enggak bakal habis-habis kalian scroll untuk baca, jadi segitu aja yang gue tulis.

Berhubung 2018 sudah berakhir, masih ada beberapa hal yang belum gue lakukan di tahun kemarin, salah satunya adalah hal rahasia yang mau gue lakukan di akhir tahun kemarin tetapi enggak jadi dilakuin. Apa hal itu? Rahasia. Semoga tahun ini bisa melakukan hal itu. 😀

Ngomong-ngomong, kejadian menarik apa di tahun 2018 yang paling berkesan di kehidupan kalian? Yuk ceritakan semuanya di kolom komentar bawah, biar komentar-komentar spam kalah sama komentar kalian.

Semoga di tahun 2019 ini kita bisa lebih sukses, lebih baik, dan lebih bermanfaat untuk orang lain. 🙂

You may also like:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *