20.4: Dikit Lagi Libur

Yak! Niat menulis setiap hari mulai luntur karena rasa malas dan kemageran mulai menggerogoti tubuh. Awalnya ingin menulis setiap hari, namun apa daya, semuanya mungkin belum bisa sekarang. Untungnya, hari ini gue bisa mengumpulkan niat dan akhirnya menulis kembali di blog ini.

Gue kebayang, sekarang mungkin telat selama 4 hari, jadi dari 20.1 menjadi 20.5. Postingan selanjutnya bisa-bisa langsung 20.15. Tapi, semoga bayangan gue itu gak kejadian. Gue harus sering nulis di tengah pandemi ini. Walaupun, hanya menulis kejadian gue aja, gue juga harus bisa nulis sesuatu yang sedikit berbobot. Yuk, bisa, yuk!

Sebelumnya gue mau kasih tahu maksudnya 20.5 itu adalah umur ke-20 hari ke-5. Jadi, bisa dibilang itu adalah waktu gue menulis postingannya bukan waktu kejadian yang gue tulis. Kayak sekarang, gue menulis 20.5, jadi menulis di umur 20 hari ke-5 yang mana isinya kejadian gue kemarin-kemarin, HEHE. Kayak postingan biasa cuma karena ini isinya semacam diary, jadinya ditambahin 20 ala ala gue.

Salah satu alasan kenapa gue tidak menulis lagi kemarin-kemarin adalah karena virus “Entar dulu, deh.” Bayangkan, virus itu yang muncul sehari bisa menunda sampai berhari-hari. Hari Senin setelah hari ulang tahun gue, gue sempat kepikiran mau nulis setelah kuliah online di siang hari. Tapi, muncul sebuah kalimat “Entar dulu, deh.”

Entar yang niatnya sore hari tapi malah mengakibatkan lupa sampai berhari-hari dan menguburkan niat untuk menulis lagi. Niatnya gue saat itu ingin bercerita tentang mata kuliah di hari Senin yang menjadi mata kuliah terakhir tatap muka sebelum perkuliahan jarak jauh. Kebetulan mata kuliah itu dosennya cukup tegas. Senang, sih, ketika kuliah online seperti ini, tidak terlalu deg-degan ketika sedang mengikuti kelasnya. Namun, rindu juga dimarahin, ditegur, dan ditunjuk untuk mengerjakan soal. Terakhir gue hampir dimarahin karena gak bawa kalkulator. Untungnya gue laki-laki, seribu alasan, HEHE. Maaf, Bu.

Keesokan harinya di hari Selasa, gue melakukan hal seperti biasa. Abis sahur tidur sebentar, kurang lebih 3—4 jam. Sebenter kan? Kemudian melanjutkan cek elearning kampus untuk kuliah dan melihat tugas hari itu. Hari Selasa menurut gue adalah hari yang paling flat, karena setiap minggu pasti kegiatannya sama. Waktu mata kuliahnya pun sama. Pagi hari dan siang menuju sore hari. Kayak, biasa banget, deh, di hari itu.

Hari Rabu, adalah hari yang menyenangkan. Sebab, hari itu adalah hari dimana gue bisa leyeh-leyeh sejenak, santai sejenak, soalnya dosennya pun juga cukup santai. Sering tidak ada kabar apakah hari itu kuliah atau tidak tetapi sekalinya ada kabar, tugasnya banyak dan materi yang diajarkan tidak paham sama sekali. Mata kuliah di hari Rabu adalah mata kuliah yang paling gue wanti-wanti karena takutnya nanti ketika ujian akhir semester membuat gue bingung gara-gara gak tahu materinya.

Hari Rabu kemarin juga gue melakukan check up TB yang ada di paru-paru gue. Ya, sudah sebulan lebih gue menjalani rawat jalan ini. Semoga saja segera membaik. Kalau kata artikel-artikel di internet, TB ini bisa sembuh setelah pengobatan minimal 6 bulan. Bismillah.

Untuk hari ini, dosen pertama gue sudah memberikan file power point yang bisa dibaca nanti dan katanya ingin memberikan tugas. Tapi, sampai sekarang belum ada. Untuk dosen kedua, sudah absen dan memberikan tugas yang deadline-nya adalah minggu depan pukul 12 pagi. Sedikit santai hari ini makanya gue bisa menulis ini.

Gue pun akhirnya sadar bahwa gak kerasa minggu depan udah libur kuliah. Libur kali ini adalah libur lebaran bukan libur semester. Cukup lama liburnya, yaitu selama dua pekan. Tahun kemarin, libur lebaran hanya sepekan, sesuai jadwal cuti bersama. Cukup beda jauh perbandingan harinya. Tapi kayaknya, libur lebaran besok akan sama aja.

Sama aja seperti hari-hari biasanya karena sudah hampir dua bulan di rumah aja. Menurut gue juga beberapa mata kuliah itu tidak terasa seperti kuliah ketika diajarkan melalui online. Feel kuliah juga gak kerasa. Biasanya berangkat ke kampus, macet-macetan, pulang bisa pacaran, tapi selama dua bulan hal itu tidak terjadi.

Mungkin, dengan adanya virus ini kita jadi bisa beradaptasi gimana menggunakan teknologi secara maksimal. Dapat dibilang tuntutan revolusi industri 4.0 dirasakan sekarang. Semuanya serba digital. Mau tidak mau kita harus bisa survive di saat sekarang. Eh bentar, tulisan ini kalau diteruskan jadinya berat, mari kembali ke obrolan pertama.

Dikit lagi libur, sayangnya liburan kali ini tidak terasa seperti libur. Walaupun libur kita tidak bisa keluar rumah untuk berwisata atau sekadar makan di restoran bersama keluarga. Sedih. Mungkin akan ada pola hidup yang berbeda setelah pandemi ini. Ada yang adaptasi menjadi lebih malas karena rebahan aja ketika di rumah atau adaptasi menjadi pribadi yang lebih ‘digital’ dan disiplin. Kenapa lebih disiplin? Sebab, ketika di rumah aja kita dituntut untuk bisa mengatur waktu dengan baik dan menerapkannya sehari-hari. Kalau tidak disiplin, kita menjadi sosok yang beradaptasi menjadi lebih malas.

Cukup sekian mungkin tulisan dari gue. Semangat untuk teman-teman yang masih menjalankan puasa. Semoga pandemi ini segera berakhir. Seperti dosen-dosen gue di minggu ini, gue mau mengucapkan mohon maaf lahir dan batin kalau ada kesalahan. Bingung? Sama. Gue juga bingung kenapa dosen gue pada minta maaf. Tapi, yang namanya manusia memang harus saling memaafkan.

Semoga virus ini cepat ditemukan obatnya dan kita bisa hidup seperti sedia kala. Aamiin.

Ngomong-ngomong, apa yang lo persiapkan untuk lebaran tahun ini? Baju baru kah? Kue lebaran kah? Atau provider internet baru karena yang lama sangat lelet?

You may also like:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *