20.22: Lebaran Yang Beda

Sebelum lanjut menulis gue mau mengucapkan mohon maaf lahir dan batin buat pembaca blog ini baik itu nyata atau tidak. Kenapa? Kali aja ada robot atau makhluk gaib yang membaca blog gue kan siapa yang tahu.

Akhirnya, setelah berpuasa selama satu bulan penuh, kita mendapatkan hari kemenangan. Ya, walaupun sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, ya. Gue akan menceritakan apa saja perbedaan lebaran tahun ini dengan tahun kemarin.

Pertama, waktu bangun tidur. Namanya baru selesai menjalankan ibadah berpuasa selama 30 hari, kebiasaan-kebiasaan masih ada yang tersisa seperti saat sahur. Biasanya, gue sahur sekitar pukul 4 pagi. Nah, ketika hari lebaran, pasti akan kebawa, tuh, bangun sekitar jam segitu.

Ketika di kampung, pasti gue akan tidur lagi. Tapi, beda dengan di Jakarta. Gak tahu kenapa gue gak bisa tidur lagi. Mungkin, karena ketika di kampung hawa-hawa dinginnya membuat ngantuk lagi jadinya bisa tidur.

Kedua, uang lebaran. Jujur aja, ketika gue lebaran di Jakarta pasti uang lebaran yang dikasih sama sanak saudara pasti lebih kecil dibandingkan pulang kampung. Walaupun sudah muter-muter pun saldonya tetap banyakan ketika pulang kampung. Gue sudah menemukan jawaban mengapa hal ini bisa terjadi.

Saat di kampung, kemungkinan gue berkunjung ke sanak saudara yang jauh itu cukup besar. Biasanya, ketika berkunjung ke saudara yang jauh akan mendapatkan angpao yang lumayan. Bahasanya, tuh, “Maklum, sekali setahun.” Oleh sebab itu, yang seperti itu dapat membuat angpao menjadi sangat lumayan.

Sayangnya, tahun ini lebaran di Jakarta dan terkena pandemi. Peribahasanya, sudah jatuh tertimpa tangga.


Dua perbedaan aja, ya, hehe. Kalo banyak-banyak nanti kebanyakan. Sesuatu yang berlebihan kan gak baik. #AlasanKarenaTidakMendapatkanIDE. Intinya adalah lebaran tahun ini adalah lebaran yang paling beda selama gue hidup.

Gue juga melakukan silaturahmi secara virtual bersama saudara di kampung. Walaupun hanya suara dan video, menambah rasa rindu dengan kampung halaman. Gue waktu itu kebetulan vidcall sama nenek gue yang di kampung, katanya lebaran di sana sangat sepi. Tidak ada tamu sama sekali karena sedang PSBB dan lockdown guna memutus penyebaran COVID-19.

Amat disayangkan gue baru bisa nulis sekarang. Seharusnya sejak tanggal 26 Mei kemarin sudah dapat ditulis. Namun, karena ada kesibukan lain jadi sedikit tertunda. Ingin dilanjutkan kembali keesokan harinya, eh, gue jatuh sakit. Sedih.

Gue sangat tidak mengira bahwa akan sakit. Soalnya hari kemarinnya gue benar-benar sehat. Tidak merasakan gejala apa-apa. Tanggal 27 Mei, malam hari, gue muntah-muntah. Setiap makanan atau minuman yang masuk pasti keluar. Badan gue juga langsung demam tinggi saat itu. Ah, ada-ada saja penyakit kemarin. Padahal, baru beberapa hari lebaran. Semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT, ya, teman-teman agar selalu sehat.

Silaturahmi online bersama keluarga di kampung halaman.

Intinya, selamat hari raya. Mohon maaf lahir dan batin. Tunggu sesuatu yang baru dari blog ini. Akan lebih up to date setiap minggunya. Kali ini gue gak main-main karena benar-benar sudah ditargetkan.

Lagi WFH. Penghasilan menjadi sulit. 😀

Sekian dan terima kasih.

You may also like:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *